Unborn 8.0 Red Pointer You Stars
You Stars. Diberdayakan oleh Blogger.

Latest Post

Cintaku Untukmu

Cintaku Untumu


Lastri memerlukan beberapa kejap memejamkan mata, sesaat sebelum bus Intra yang ditumpanginya memasuki Terminal Amplas. Angannya membual pada kenangan beberapa tahun lewat, pikirannya dipenuhi kenangan dan mimpinya yang ditinggalkan di kota ini.Setelah turun dari bus, Lastri bergegas melompat ke dalam Angkot lagi,KPUM trayek Terminal Amplas-Pinang Baris. Tadi dia sempat mengedarkan pandang ke sekeliling terminal. Dia menggeleng kepala sendiri, menenangkan batinnya. Katanya kepada batin: menggerutu soal kesemrawutan tak baik bagi kesehatan. Sudah Tiga tahun Lastri berada di Bandung hanya untuk bekerja dan bekerja. Tiga tahun juga dia bendung rasa rindu pada keluarganya di Medan, Lastri memutuskan untuk menghabiskan cuti tahunannya pulang ke Medan. Pihak kantor mengizinkannya untuk ambil cuti tahunan selama 14 hari.

 

Pelan-pelan Angkot KPUM yang ditumpangi Lastri Sebentar lagi akan melintasi perempatan Universitas Sumatera Utara,Dia ingat dulu, lama sekali pernah bergiat menimba ilmu di Universitas itu. Sambil tersenyum Lastri mengenang jalan hidupnya. Sesampainya dirumah, Orang tua Lastri begitu bahagia melihat ia tetap sehat, bahkan mereka mengatakan ia jauh berubah, tutur bahasanya semakin lembut dan sopan, cara berpakaiannya benar-benar menunjukkan kalau Lastri memang perempuan kantoran, Lastri semakin feminim dan semakin cantik. Keluarganya menyambutnya dengan penuh kegirangan.

 

Lastri tidak pernah lupa akan kebiasaannya dulu, setiap hari minggu ia pasti selalu ke pantai cermin untuk melepaskan rasa penat lelah menjalani rutinitas selama satu minggu,Pantai Cermin adalah salah satu tempat terciptanya kenangan antara Lastri dan Andre dimasa lalu,tapi sayangnya andre telah menikah. Kala itu Lastri mengundang Andre untuk menghadiri acara wisudanya, tapi disaat itu juga orang yang dia kasihi menyodorkan undangan pesta pernikahannya. Betapa hancurnya hati Lastri. Wisuda dilalui dengan air mata kebahagiaan sekaligus kesedihan. Seusai wisuda, keberangkatannya bekerja di Bandung pun ia per cepat. Dua hari sebelum pesta pernikahan Andre di situ ia meninggalkan kota Medan.Lastri pergi tanpa pamit pada siapapun kecuali keluarganya. Sejak itu hingga saat dia kembali ke medan dia tidak tahu gimana kabar andre.”Ah ya sudahlah, lupakan.” Lastri berkata dalam hatinya. Dia duduk ditepi pantai. Pandanganya tertuju ke lautan yang luas, ia juga tetap memperhatikan sekeliling. Tak bisa dia bohongi ia berharap bisa melihat andre ada di tempat ini. Lastri tak sedikit pun bisa melupakan Andre, walaupun Andre sudah menikah.

 

Dari kejauhan Lasrti melihat sesosok pria yang lagi berenang di pantai, itu Bang surya. Ia mendekati Surya.

 

“Hei, Bang Surya apa kabar?.” Lastri menjulurkan tangannya sambil tersenyum.

 

Surya hanya terdiam melihatnya, sepertinya dia tidak mengenali Lastri lagi.

 

“Ini aku Bang, Lastri, Lastri mantannya Bang Andre.” Sebenarnya berat hati lastri menyebut nama Andre, tapi memang hanya itulah yang bisa mengingatkan Surya padanya karena Lastri berkenalan dengan Surya melalui Andre.

 

“Oh,, Lastri? Sudah lama ya kamu tidak kelihatan lagi kemana saja dek?.”

 

“Aku sekarang kerja di Bandung bang, aku sudah dua tahun di sana.”

 

“Wah, pantesan gak pernah lagi kelihatan.”

 

“Ya gitu deh, Abang apa kabar?.”

 

“Sehat, Lastri?.”

 

“Seperti yang Abang lihat.”

 

“Tapi kamu jauh berubah ya, kamu jauh lebih cantik dari sebelumnya, abang saja sampai tak mengenalmu tadi.”

 

“Oh ya?.”

 

Sebenarnya dalam hati Lastri juga ingin menanyakan pada Surya bagaimana kabar Andre, tapi ia rasa itu tidak perlu. Sekarang ia sadar sekalipun ia jauh dari semua kenangan, tetap saja cintanya pada Andre belum pudar,”Adilkah buatku ini Tuhan”, Lastri mengeluh.

 

“Dek sudah tau berita belum mengenai si Andre?.”

 

Mendengar nama Andre, Lastri terkejut jantungnya berdetak tak menentu, berharap tidak membahas tentang Andre, Surya malah mengingatkannya, tapi Lastri berusaha bersikap tenang.

 

“Memangnya kenapa dengan Andre, bang?.”

 

“Lho belum tau beritanya ya?.”

 

Informasi yang diberitahukan Surya semakin membuatnya penasaran, tapi ia tetap berusaha tenang.

 

“Berita apa sih bang? Buat penasaran saja.”

 

“Kapan terakhir kamu bertemu dengan Andre?.”

 

“Ya sudah lamalah, tiga tahun yang lalu sewaktu dia antar undangan padaku.” Mengingat kejadian itu membuat lastri berkata terbata-bata dan pelan, karena hatinya terpukul tiap kali ingat kejadian itu.

 

“Terus kau tidak tahu kalau pernikahan mereka gagal?.” Surya berkata dengan wajah yang sangat serius.

 

Mendengar kata “gagal” ia semakin terkejut, Ia tidak tahu harus bersikap seperti apa, ada rasa bahagia di hatinya, tapi ada juga rasa sedih di hatinya.

 

“Kau tahu dek, dua hari sebelum pesta mereka berlangsung, Orang tua si perempuan datang ke rumah Andre di kampung, satu kampung terkejut mana boleh Orang tua siperempuan datang ke rumah Besannya sebelum acara pernikahan anak perempuannya berlangsung, tidak ada yang tahu tujuannya, tiba-tiba orang tua si perempuan menarik paksa putrinya keluar dari rumah si Andre. Orang tua si perempuan tidak setuju mereka menikah, ternyata selama ini si perempuan hanya meminta restu kepada Bapak Udanya saja
(adik laki-laki dari bapak), sementara orang tuanya tidak setuju, karena perempuan itu sudah dijodohkan dengan paribannya (anak laki-laki dari bibi). Pernikahan dibatalkan, sempat juga memang ini sampai pada jalur hukum, tapi tak tahu endingnya apa, tapi yang pasti sekarang si perempuan sudah menikah dengan paribannya itu.”

 

Surya diam sejenak, Lastri tidak sabar mendengar kabar selanjutnya terutama kabar Andre.

 

“Jadi sekarang Andre dimana?.”

 

“Sekarang aku tidak tahu dia dimana, sejak kejadian itu dia tidak pernah muncul lagi dan tidak ada kabar”.

 

Istri Surya datang mendekati Surya dan Lastri dan mengajak Surya pulang, sayang sekali aku rasa moment ini untuk ditinggalkan, padahal aku ingin mendengar lagi informasi yang sangat penting ini. Ucap Lasrti dalam hati

 

Perasaan sedih, tapi juga bahagia bersatu dalam dirinya. Iasedih karena ia membayangkan bagaimana kalau ia berada di posisi mereka dan ia bahagia berarti ia masih ada kesempatan untuk mengulang lembaran baru dengan Andre.

 

Informasi yang Lastri dapatkan dari Surya tadi membuat ia benar-benar gelisah dan memancing dirinya untuk mencari tahu dimana sekarang keberadaan Andre, tapi ia tidak tahu harus mulai mencari dari mana, hanya satu jawaban ia harus menjumpai Orang tuanya di Siantar.

 

Walaupun cuaca tidak bersahabat, rintikkan hujan di pagi hari tidak membuat Lastri malas untuk berpergian sesuai rencananya, ia mengeluarkan mobil Avanza silver milik Papanya. Selama ia di Medan Papanya mempercayai menggunakan mobil Avanzanya kemanapun Lastri pergi, Lastri menuju Siantar.

 

Sampai di depan rumah Andre, ia keluar dari mobil, seorang perempuan yang paruh baya datang menghampirinya menatap keheranan.

 

“Cari siapa dek?”.

 

” Ini Namboru (sapaan buat Mamanya pacar kita atau suami kita, atau juga satu marga sama bapak kita dalam adat Batak).” Lastri memastikan.

 

” Namboru mana yang adek maksud?.” Namboru bertanya heran.

 

” Namboru, Mamanya Andre?.” Lastri bertanya lagi.

 

“Iya benar, adek ini siapa ya?.”

 

“Ini aku Lastri, Namboru.” Lastri menyalami tangan Namboru.

 

Setelah Namboru tahu kalau itu adalah Lastri, Namboru memeluknya dan menangis histeris, situasi menjadi ramai para tetangga datang karena mendengar tangisan histeris Mama Andre, mereka membawa Lastri dan Namboru masuk ke rumah.

 

Mama Andre menceritakan kejadian yang sama persis dengan apa yang diceritakan oleh Surya pada Lastri, Mama Andre malah berkata kalau mereka sudah malu sekali atas kejadian itu dan sejak itu Andre tidak pernah lagi menunjukkan dirinya. Mama Andre bilang Andre sekarang ada di Riau, sudah dua tahun dia disana dan tidak pernah pulang dan rasa rindu yang Mama Andre rasakan yang membuat Mama Andre semakin kurus kering, padahal dulu Mama Bang Andre termasuk perempuan yang gemuk.

 

Mama Andre menyuruh Lastri menelepon Andre tanpa berpikir panjang ia langsung menghubungi Andre. Pembicaraan pun tercipta begitu menyenangkan, awalnya Andre tidak percaya kalau Lastri yang menelepon dirinya, tapi Lastri meyakinkan dia kalau ini memang benar-benar dirinya. Satu jam menelepon tanpa memperdulikan telinganya yang sudah panas mereka sama-sama melepas rindu melalui telepon,Lastri menyuruhnya pulang karena waktunya di Medan hanya tinggal 10 hari lagi. Tanpa basa basi Andre mengatakan malam ini dia akan pulang dan sampai di Medan besok pagi.

 

Lastri menyarankan dia pulang tidak usah ke kampungnya tapi ke Medan saja, karena kata Andre untuk sekarang ini dia masih belum bisa menahan rasa malu. Tapi kami bingung kemana dia harus tinggal, sementara Mamanya juga ingin bertemu dengan Andre, tinggal di Medan tempat saudara mereka juga masih belum siap. Tapi tidak berlama-lama lagi Lastri dan Mama Andre pergi ke Medan, sampai di Medan mereka langsung cari kamar kost untuk Mama Andre dan Andre tempati sementara dan Lastri bersedia membiayai semua kebutuhan mereka selama mereka nge-kost.

 

Pukul 09.00 WIB Lastri dan Mama Andre menjemput Andre ke terminal Amplas, setelah memarkirkan mobilnya, Lastri dan mama Andre langsung mencari dimana bus yang

 

dari Riau berhenti. Satu jam sudah menunggu, bus dari Riau tiba, Mama Andre bergerak kesana-kemari mencari Andre di antara penumpang yang turun dari bus tersebut, tiba-tiba Mama Andre memeluk lelaki yang kurus dan berkulit hitam, pria itu benar-benar tidak terawat, dia adalah Andre. Fisiknya bahkan jauh lebih parah daripada sewaktu Lastri dulu pacaran dengan dirinya, walaupun begitu Lastri tidak peduli lagi seperti apa dirinya, yang pasti rasa cintanya padanya jauh mengalahkan rasa malunya dulu.

 

Waktu Lastri yang tinggal 9 hari di Medan tidak akan ia sia-siakan, ia habiskan untuk mengurus Andre dan Namboru, ia memberikan yang terbaik kepada mereka, ia juga selalu mencari kesempatan untuk berduaan dengan Andre berharap Andre mau mengulang lagi kisah cinta mereka. Merasa termotivasi dengan dukungan lastri sejak kmereka bertemu beberapa hari yang lalu Andre kembali seperti dulu, dia sudah berani menunjukkan dirinya pada teman-temannya lagi, dia juga mulai bekerja lagi sebagai anggota supplier.

 

Tidak ada yang bisa menghalangi waktu, 14 hari telah berlalu, Lastri harus meninggalkan kota Medan kembali ke Bandung, berat sekali dia melangkah. Sehari sebelum ia berangkat, Andre mengajak Lastri menghabiskan waktu hanya berdua seharian, sesuai dengan apa yang Lastri harapkan Andre meminta Lastri untuk jadi kekasihnya kembali, tapi kali ini Lastri bilang padanya aku tidak mau hanya sebatas kekasih tapi aku mau menjadi pendampingmu untuk selamanya.

 

Andre begitu gembira mendengar ucapannya, dia memeluk erat dan mengatakan “Terima kasih sayang.” Lastri berangkat ke Bandugn, Namboru kembali ke kampung dan Andre sudah bekerja di Medan.

 

Sudah enam bulan berpacaran jarak jauh, rencana Mereka menuju pelaminan, Lastri meyakinkan orang tuanya agar mereka merestui hubungannya dengan Andre. Orang tua Lastri tidak banyak komentar, bagi mereka kalau memang itu baik bagi Lastri mereka setuju saja asal jangan ada penyesalan di kemudian hari, tapi tekad Lastri sudah bulat dan mereka positif mau menikah dua bulan lagi.

 

Sibuk mengurusi hari pernikahannya dan Andre membuat Lastri harus Medan-Bandung dan sebaliknya, perasaan senang, gugup dan tegang bercampur dalam diri Lastri dan Andre. pernikahan satu bulan lagi. Undangan dicetak, pakaian sudah dijahitkan. Semua sudah beres hanya tinggal waktunya saja.

 

Pagi hari yang sangat cerah, menikmati secangkir teh di dekat jendela ruangan kantornya, sambil memandang lalu lalang pengangkutan yang ada di jalan raya di bawah sana. Lastri tidak tahu kenapa dengan hatinya, dia merasa bahagia sekali tidak tahu apa sebabnya,ia senyum-senyum sendiri sampai-sampai teman-temannya bilang. “Duh,, yang mau nikah itu, bahagia sekali, ech.” Senyum Lastri semakin lebar, mungkin mereka benar ia bahagia seperti ini karena hari pernikahannya sudah dekat.

 

“I’ll be waiting for you here inside my heart” handphone Lastri berdering.

 

Dia melihat panggilan dari Mamanya Andre, dengan senang hati ia mengangkat telepon dari calon ibu mertuanya ini.

 

“Halo Namboru”. Dengan nada yang semangat ia menjawab.

 

Tapi Lastri tidak mendengar sedikitpun suara dari seberang sana. ” Namboru, Namboru, halo,halo”. ia mengulang jawabannya, mungkin saja signal sedang terganggu pikirnya, telepon putus. Dia menghubungi Namboru, mungkin saja ada yang penting fikirnya.

 

“Halo boru.” jawaban dari seberang sana, tapi nadanya sangat lemah, berat dan sepertinya menangis.

 

“Lho, Namboru kenapa? Namboru nangis ya?.”

 

Suara tangis Namboru semakin kencang sekencang-kencangnya, tangis Namboru semakin membuatnya panik tak menentu.

 

“Namboru kenapa? Namboru kenapa?.” Suara Lastri semakin keras sampai-sampai semua karyawan melihat dan masuk ke ruangannya.

 

“Andre, ANdre…” Namboru bicara tanggung-tangung, Lastri semakin penasaran.

 

Andre? Andre kenapa Namboru?.” ia bertanya dengan penuh kegelisahan.

 

“Kuatkan hatimu ya boru (boru panggilan anak perempuan bagi orang Batak) Andre.Andre.Andre meninggal”. Namboru langsung menjerit.

 

Lastri tidak tahu apakah dia salah dengar atau tidak tapi semua gelap ia rasa, handphone dari tangannya terjatuh.

 

Ketika dia terbangun sudah banyak orang mengelilinginya, mereka memeluknya sambil menangis. Mereka tahu kalau calon suami Lastri yang akan ia nikahi dua minggu lagi telah pergi untuk selamanya.

 

Selama Lastri pingsan teman-teman kantornya mengurus tiketnya ke Medan, mereka benar-benar merasakan duka yang Lastri alami. Keberangkatannya ke Medan tepat pukul 16.00 WIB, Dia tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia hanya mengikuti kemana temannya Lastri membawanya, Mereka yang mengurus Lastri sampai menghadap jasad calon suaminya, hanya tangis yang bisa ia keluarkan.

 

Saat pemakaman berlangsung, Lastri masih tetap antara sadar dan tidak sadar, tapi dia masih mendengarkan ada bisikkan di telinganya, “Maafkan aku sayang, cintaku abadi untukmu.” Mendengar bisikkan itu Lastri langsung tersadar dan memperhatikan sekelilingnya kalau tak satu orangpun ada di sampingnya kecuali Namboru yang masih larut dalam kesedihannya, sementara keluarga Lastri berdiri di hadapan Lastri. Lastri tersadar kalau itu adalah suara calon suaminya dari alamnya ia pun berkata dalam hati “Selamat jalan sayang, cintaku juga abadi untukmu.”

 

Setelah pemakaman, mereka mendudukan Lastri disebuah tikar dan diletakkan beras di kepalanya, dia tahu mereka sedang memberikan penghiburan padanya, tapi Lastri tidak mendengarkan apapun yang mereka katakan, Dia malah bertanya kenapa calon suaminya bisa meninggal tiba-tiba seperti ini, padahal sehari sebelum meninggal, malamnya dia masih menelepon Lastri dan menceritakan rencana-rencana mereka bila sudah menikah nanti.

 

Teman kost Andre menceritakan sewaktu Andre selesai mandi mau pergi kerja dia sempat berkata kalau kepalanya sakit sekali bahkan dia sempat menjerit, sampai-sampai yang lain ikut terbangun, tiba-tiba dia terjatuh terlentang, mereka langsung melarikannya ke rumah sakit, tapi dokter bilang nyawanya sudah tidak terselamatkan lagi, Mereka langsung membawa jasadnya ke kampung.

Tamat

Cinta Romantis

Cinta Romantis Yang Mengharuhkan
cinta Sejati adalah cerita peendek yang bercerita tentang kisah seorang yang mencintai kekasihnya dengan sepenuh hati. Cerita yang berisikan romantisme ini bertujuan memghibur sahabat yang selalu setia berkunjung di blog ini
Gambaran dari cerpen pendek berikut ini cukup mengharukan, karena tak akan disangka kejadian seperti ini bisa terjadi. Jika penasaran akan cinta ini, silahkan langsung saja dibaca.



Hari ini Dodi berulang tahun. Aku ingin memberikan sesuatu yang istimewa untuknya. Sesuatu yang bisa membuatnya bahagia dan memaafkan tingkah lakuku yang tak pantas selama ini.

Hari ini akan kuserahkan seluruh cintaku padanya. Kan kuberikan sepenuh hatiku untuknya. Kan kubalas hari - hari menyakitkan yang dilaluinya dengan manisnya cinta. Aku membungkus bingkisan yang telah kupersiapkan untuk kado ulang tahunnya sambil bersenandung riang. Dodi sudah lama menginginkan jam tangan ini, yang diburunya sejak enam bulan lalu. Kutemukan seminggu yang lalu saat aku tugas ke Singapura. Di hari istimewanya ini aku akan melakukan sesuatu yang spesial. Aku akan menjamunya makan malam, memberikan hadiah untuknya, dan menyatakan cintaku padanya. Ya, aku ingin kembali padanya. Aku ingin menjadi bagian hidupnya lagi. Aku ingin mengarungi dunia bersamanya.

Aku bertemu Dodi setahun yang lalu, di klub fotografi tempat aku menghabiskan waktu di akhir pekan. Aku adalah pendatang baru di klub ini. Rasa penasaran melihat foto – foto spektakuler yang dihasilkan Joey, temanku, mendorongku untuk bergabung di salah satu komunitas potography di Jakarta. Sial bagiku.

Di hari pertama aku bergabung, klub memutuskan untuk hunting foto di kawasan kota tua Jakarta. Sesampai di tempat tujuan, setiap fotografer langsung beraksi. Potret sana, potret sini. Ambil angle dari sana dan dari sini. Semuanya sibuk, tak terkecual aku. Bedanya, Semua orang sibuk memotret, sementara aku sibuk berkutat dengan Nikon D80 yang baru kubeli empat hari yang lalu. Ini pertama kali aku memiliki kamera SLR dan seratus persen buta bagaimana mengoperasikannya. Mau bertanya, malu. Jadi, yang kulakukan hanyalah membuka dan menutup lensa. Aku tengah mengotak – atik sang kamera saat seorang cowok dengan postur tubuh kurus mendatangiku.

"Kenapa kameranya?" tanyanya. "Rusak ya?" Bingung tak tahu mau mengatakan apa. Aku hanya mengangguk - angguk tak jelas. Si cowok mengambil kamera dari tanganku, memencet - mencet tombolnya, dan mengambil foto ku dari berbagai sisi.
"Bagus kok," katanya. "Kelihatannya masih baru. Nih," dia mengembalikan kamera malang tersebut. Aku hanya diam, masih bingung bagaimana mengoperasikannya. "Kok belum mulai motret?" tanyanya. "Padahal, banyak banget objek menarik lho. Lihat. Langitnya bagus banget. Dengan siluet pohon, bakal jadi poto sempurna."

"Mmmmm... mmmm" aku menggumam ragu – ragu. "Sebenarnya, aku tak bisa mengoperasikannya," kataku pasrah membayangkan dia akan menertawakanku. Tapi, dia tidak tertawa. Dia mengajakku duduk di bangku kayu dan memberikan kursus kilat kepadaku. Belakangan aku tahu, namanya Dodi. Dia anggota klub senior dan seorang arsitek.

Pertemananku dengan Dodi terus berlanjut. Di setiap pertemuan, dia selalu memberikan tips - tips khusus bagaimana mengambil foto yang baik, waktu terbaik untuk mengambil poto panorama, angle sempurna untuk memotret seseorang. Percakapan kami berlanjut tidak hanya seputar fotografi. Dilanjutka dengan cerita – cerita seputar pekerjaan. Dia bercerita tentang designya, aku bercerita tentang kasus-kasus di firma hukum tempatku bekerja. Dalam waktu dua bulan, kami menjadi dekat.

Dodi sahabat yang baik. Dia selalu bersedia mengajariku terhadap hal – hal yang tak kuketahui tentang. Mendengarkan keluh kesahku tentang klien – klien yang menyebalkan. Menghiburku saat aku kesal. Kebaikan tulus dari seorang sahabat. Aku menyayanginya. Dan aku tahu, dia juga menyayangiku. Bahkan sangat menyayangiku. Satu hal yang terkadang sangat merisaukanku. Aku memang menyukai Dodi. Namun, aku khawatir, rasa sayangnya yang berlebihan akan membawanya menyatakan sesuatu padaku, sesuatu yang akan sangat sulit kuterima.

Aku memang menyayanginya. Namun, aku tidak mencintainya. Aku mencintai seseorang yang tak pernah tahu kalau aku mencintainya. Seseorang yang kucintai diam – diam. Aku mencintai Rafie. Teman serumah saat aku tinggal di Wisma Kenanga, saat aku bekerja di Bandung. Seseorang yang sempat mengisi mimpi – mimpi malamku. Seorang yang bisa memebuat hariku di kantor terasa begitu menyenangkan hanya karena sebuah email singkat darinya. Padahal email tersebut hanya menanyakan nomor telepon seorang teman yang lain. Rasa pengecut menghalangiku untuk menunjukkan perasaanku kepadanya. Aku tetap memendamnya, hingga dia pindah ke Surabaya untuk melanjutan sekolah spesialisnya.

Kepergiannya tak membuat cintaku luntur. Perasaanku tetap kuat. Yakin, suatu saat dia akan datang kepadaku. Setiap hari, hal pertama yang kulakukan adalah mengecheck facebook miliknya, dan memastikan statusnya masih Single.

Saat itu akhirnya tiba. Dodi menyatakan cintanya kepadaku. Aku menerima cintanya. Bukan karena aku mencintainya, hanya karena aku tak mau kehilangan perhatian darinya. Kehilangan kebaikan – kebaikannya. Menerima cintanya hanya sekedar cara untuk membunuh kesepian dan kerinduanku akan Rafie. Terkadang, aku merasa berdosa. Saat bersamanya, aku malah membayangkan sosok Rafie. Pernah, suatu hari dia memergokiku tengah memandang foto Rafie di facebook. Aku kaget bukan kepalang, dan berpura – pura tenang menjelaskan bahwa Rafie adalah temanku, dan aku penasaran ada dimana dia sekarang. Kukira Dodi akan cemburu. Ternyata aku salah. Dia tetap bersikap biasa. Menganggap kelakuanku melihat foto laki – laki lain dengan penuh damba adalah satu hal biasa.

Namun, aku tak bisa membohongi diri. Semakin lama aku bersamanya, aku semakin tersiksa. Sms – sms manis untuk mengingatkan jangan lupa makan dan shalat darinya mulai membuatku bosan. Akhir pekan mulai terasa menyiksa. Kebersamaan dengannya yang dahulu sangat kunikmati berubah menjadi siksaan batin yang tak tertahankan. Sering, aku membatalkan janji tanpa sebab, berpura – pura sibuk hanya sekedar ingin menghindarinya. Kerinduanku pada Rafie, tak jarang membuatku marah tak beralasan kepadanya. Begitupun, dia tetap baik. Mendengarkan amarahku hingga aku puas. Esoknya, semuanya seolah tak pernah terjadi.

Semuanya berawal dari reuni singkat itu. Meskipun telah berpisah dengan teman – teman dari Wisma Kenanga, aku tetap intens berkomunkasi dengan mereka melalui milis khusus. Melalui milis ini kami saling memberi khabar, dan melalui milis ini pula aku mengetahui sedikit khabar tentang Rafie. Tiga tahun tak pernah bertemu, kami memutuskan untuk melakukan reuni kecil di Jogja, di rumah Harry, salah seorang teman. Jogja jadi pilihan utama karena letaknya yang strategis dari Jakarta maupun Surabaya dimana kami bermukim. Reuni yang kusambut dengan senang hati. Bayangan aku akan segera bertemu dengan Rafie membuat nafaskku sesak jika membayangkannya.

Aku membatalkan janji dengan Dodi dan klub fotografi untuk hunting ke pedalaman Kalimantan demi reni tersebut. Padahal, rencana hunting ini sudah lama sekali dipersiapkan. Seperti biasa, Dodi memaklumiku. Sama sekali tidak marah dengan keputusanku. Dia tetap memberikan kebaikan seperti biasanya. Kebaikan yang membuatku malu. Dan marah. Terkadang, ingin rasanya melihatnya marah kepadaku, agar aku tak perlu merasa terlalu bersalah.

Reuni tersebut berjalan lancar dan sempurna. Harry sudah jadi Direktur di salah satu organisasi yang sedang ditanganinya. Eki sudah menikah dan Roby sudah memiliki sepasang anak kembar. Hanya aku dan Rafie yang belum menikah. Rafie masih semenarik dulu. Yang membedakannya hanyalah sikapnya yang semakin bertambah matang. Gayanya masih tenang dan masih seintelektual dulu. Hal yang sangat kukagumi darinya dan membuatku selalu rendah diri jika bersama dengannya.

Aku tidak menyangka, pertemuanku dengan Rafie terus berlanjut. Dia telah menyelesaikan sekolah spesialisnya di Surabaya dan berniat pindah ke Jakarta, menerima tawaran bekerja di salah satu rumah sakit swasta sebagai spesialis jantung. Kepindahannya ke Jakarta membuat hubungan kami kembali dekat. Bahkan lebih dekat daripada saat kami tinggal bersama. Aku mulai bermain api. Entah mengapa, kecanggunganku di depannya hilang, dan aku bisa bersikap biasa kepadanya. Rasa cintaku semakin menggebu. Aku semakin mencintainya. Tawaran makan malam bersama dengannya merupakan hal yang paling kutunggu – tunggu. Bahkan, beberapa malam minggu aku membatalkan janji dnegan Dodi untuk menghadiri konser musik klasik kesukaan Rafie. Begitupun, aku masih tak tahu bagaimana perasannya padaku.

Hari itu hari ulang tahun Rafie. Aku memberinya surprise dengan memberikan bingkisan sederhana untuknya. Meskpin biasa, namun Rafie sangat senang dengan yang kuberikan. Dia mentraktirku makan malam di sebuah restoran di Kemang untuk merayakan ulang tahunnya. Malam itu begitu sempurna, sebelum Rafie mengantarku pulang. Hari sudah larut, menunjukkan pukul 11 malam. Namun, ada seseorang yang duduk di teras rumahku. Dody. Oh Tuhan. Mau apa dia malam – malam begini. Dia sudah terlanjur melihatku. Tak ada waktu untuk kabur, dan Rafie sudah terlanjur keluar dari mobil.

Dodi menyambutku pulang. Wajahnya kelihatan lelah. Ada sorot kesedihan disana. Namun, seperti biasa. Dia tetap seperti malaikat. Tidak marah kepadaku, dan tidak menunjukkan bahwa kami memiliki hubungan khusus. Tidak sedikitpun dia menunjukkan kebencian kepada Rafie.

"Hi Sheila. Aku menunggu dari tadi. Ada seseorang yang menitipkan ini padamu. Kukira, harus kusampaikan malam ini juga," dia menyerahkan sebuah bingkisan untukku. Tersenyum hangat, meskipun aku tahu hatinya pedih.
"Karena si bingkisan sudah berada di tangan yang benar, aku pulang dulu ya. Senang berkenalan denganmu Rafie," dia berlalu. Setelah Rafie pulang, aku membuka bingkisan yang ternyata sebuah lensa tele yang sangat kuinginkan. Aku terenyuh ketika mengingat hari ini adalah hari jadi kami. Dan aku telah melupakannya begitu saja.

Setelah kejadian itu, Dodi sedikit berubah. Perhatian yang diberikannya sudah berkurang intensitasnya. Bahkan, ajakan hunting juga mulai jarang terdengar. Namun, aku yang tengah dimabuk cinta tak terlalu memperdulikan perubahan yang semakin lama seharusnya semakin terlihat. Bahkan, aku tak mempermasalahkan, di hari ulang tahunku dia tak dapat merayakan bersama denganku dikarenakan ingin bergabung bersama teman – teman lamanya dari universitas di kota gudeg. Bagus juga, pikirku. Aku bisa menghabiskan malam ini bersama Rafie.

That’s the perfect night. Aku dan Rafie merayakan ulang tahunku di sebuah restoran di Forth Season. Jamuannya bukan main. Rafie mentraktirku untuk candle light dinner dan memberikan sebuah liontin berinisial namaku. Malam yang diisi dengan penuh tawa dan canda. Tak sedikitpun aku terfikir akan Dodi.

Insiden itu terjadi kembali. Sudah tengah malam, Rafie mengantarku pulang. Seperti dejavu. Seorang sosok tengah menunggu di beranda rumahku. Dodi. Masih seperti kejadian sebelumnya. Aku sudah tidak memiliki waktu untuk kabur. Dan Rafie sudah terlanjur keluar dari mobil untuk membukakan pintu mobil untukku. Namun, dia tidak seperti Dodi yang biasa kutemui. Wajahnya yang selalu tenang terlihat muram. Terlihat kecewa mungkin lebih pantas. Menyadari berada di tempat dan waktu yang salah, Rafie segera undur diri dan mengucapkan salam buatku dan Dodi. Seperti biasa, Dodi tetap sopan. Bahkan masih bisa melambaikan tangan kepada Rafie. Seseorang yang telah merebut hatiku darinya.

"Aku tahu Sheila. Hubungan kita tak akan bisa berlanjut. Aku tidak ke Jogja. Aku hanya mengetes, sampai dimana perasaanmu terhadapku. Dan, feelingku selama ini benar. Kamu lebih mencintai dokter itu daripada aku."
"Dodi.. Maaf...Aku.." aku berusaha mencari kata – kata pembelaan.
"Sudahlah Sheila. Tak ada gunanya menyangkal. Aku sudah menyaksikan sendiri. Aku hanya ingin kamu bahagia. Selamat tinggal Sheil," dan dia meninggalkanku begitu saja.

Meskipun aku mencintai Rafie, putus dengan Dodi membuatku merasa sedikit kehilangan. Aku merindakukan perhatiannya. Kesabarannya. Serta ketenangan yang selalu diberikannya kepadaku. Dia masih tetap baik. Tak sedikitpun menunjukkan tanda – tanda kebencian, padahal aku sudah jelas – jelas mengkhianatinya. Hubunganku dengan Rafie, juga bertambah dekat. Namun, dia bukan Dodi yang selalu mengerti aku. Aku selalu menemani Rafie menonton konser klasik kesukaannya. Namun, dia selalu untuk menyaksikan konser Anggun yang selalu ingin kutonton. Kurang berkelas, begitu katanya. Aku selalu mendengarkan dia bercerita tentang hobinya mengoleksi miniatur pesawat, namun selalu menunjukkan tampang pura - pura bego saat aku meminta sarannya akan foto - fotoku. Dan yang paling parah, dia masih belum menyatakan cinta kepadaku.

Aku harus bertindak. Sudah hampir empat bulan kami berhubungan. Bertelepon setiap malam. Saling mengirimkan sms sekedar mengingatkan untuk makan siang. Berkencan setiap akhir pekan, jika bisa disebut kencan karena kami tak pernah mengucapkan tiga kata sakti itu. Hingga satu malam, kuputuskan untuk melangkah lebih jauh. Aku harus berani jika ingin mendapatkan kejelasan.

"Maaf Sheila. Aku tidak tahu jika kamu mencintaiku." Apa? Tak tahu? Jadi apa dikiranya hubungan kami selama ini? "Sejak kapan kamu mencintaiku?" tanyanya
"Sejak kita tinggal bersama di Wisma Kenanga," jawabku datar. Aku sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.

Aku mengkhianati orang yang telah mencintaiku dengan sepenuh hati demi orang lain yang tak sedikitpun mencintaiku. Menunggu seseorang yang tak layak untuk ditunggu. Aku malu. Pada Dodi. Terlebih pada diriku sendiri. Aku mencapakkan Dodi untuk seseorang yang tak layak untuk dicintai. Benar kata orang, "You dont know what you got till it’s gone" . Setelah putus dengan Dodi, aku baru menyadari bahwa aku mencintainya.

"Hi Sheila. Apa khabar. Kamu cantik sekali malam ini," Dodi menyambutku di pintu apartemennya.
"Baik. Kamu apa khabar? Lama tak terdengar," balasku
"Baik sayangku. Maaf. Aku begitu sibuk akhir – akhir ini. Dikejar deadline. Tak pernah meneleponmu lagi," sesalnya. Meskipun telah putus, Dodi terkadang masih menelponku dan masih memanggilku ‘sayangku’. Sekedar untuk mengucapkan halo atau membicarakan klien – kliennya.
"No problem," jawabku. "Selamat Ulang Tahun ya," kuserahkan bingkisan yang telah kupersiapkan.
"Wow... Terima kasih.. "You don’t have to do that,"
"Hey. It’s your birthday," balasku.
"Ok dear. Ayo masuk. Ada seseorang yang ingin kuperkenalkan padamu. For your information, kamu orang pertama yang tahu akan hal ini,"

Aku mengikuti Dodi masuk ke apartemennya. Perasaanku mulai tidak enak. Rencana yang mulai kususun di dalam benakku mulai porak poranda. Apakah ini sebuah firasat? Sudah ada orang lain di ruang tamu nya. Seorang wanita duduk di atas sofa, sambil memandang ke luar jendela menikmati Jakarta di waktu malam.

"Sayangku, aku ingin memperkanalkan calon istriku, Annisa. Aku baru saja melamarnya,"


- Tamat -

My Idiot Brother

MY IDIOT BROTHER : kisah pengorbanan kakak yang inspiratif
Mengawali tahun 2013 agnes davonar bersama Herwin Novianto ( sutradara terbaik ffi 2012 ) bekerjasama lewat rumah produksi satu membuat film yang diangkat dari novel best seller my idiot brother yang terpilih sebagai karya sastra terpopuler kompasiana (kompas 2012). Kisah ini terinspirasi oleh kisah nyata yang dibalut fiksi sehingga dapat menginpirasi kita semua untuk menerima apapun keadaan siapapun yang kita sayangi dengan tulus.
selamat membaca dan nantikan kisah layar lebar ini pada tahun 2013.
 
Sebenarnya apa sih arti kebahagiaan. Buat gua, kebahagian itu dilihat dari siapa saja yang ada di sekitar kita. Buat gua, kebahagiaan itu. Seharusnya dalam hidup gua, hanya ada orang-orang yang berarti. Tapi, sayangnya kebahagiaan yang gua miliki rasanya dikotorin oleh pikiran gua sendiri. Alkisah, gua punya keluarga lengkap, ayah, ibu dan seorang kakak laki-laki. Tapi kakak laki-laki gua ini sangat berbeda. Dia seperti penghalang kebahagiaan dalam hidup gua, bukan karena dia pinter ataupun bisa merebut kasih sayang orang tua gua. Tapi karena dia idiot. tapi dari dia, gua belajar akan satu hal, satu hal yang mengajarkan bahwa dialah malaikat dalam hidup gua yang berwujub manusia
Idiot dalam arti kata bego, cacat dan bikin malu gua sebagai adik. Ga ada yang bisa gua banggakan dari dia, umurnya uda 5 tahun lebih tua dari gua, tapi begonya seperti 10 tahun lebih mudah dari gua. Gua gak heran, nyokap sampai harus rela nunda kelahiran gua 5 tahun kemudian, hanya demi merawat dia. Dalam bahasa kedokteran, dia itu kena sindrom Down yang bikin otak dia itu bego. Ga penting apa penyakit yang dia bawa sejak lahir, seharusnya dia itu ga pernah ada aja, karena menurut gua, dia itu hanya bikin malu gua.
Sejak kecil, gua selalu bilang ke nyokap. Kalau mau jemput gua di sekolah, jangan pernah bawa Hendra ( nama kakak gua) atau gua ga kan akan pernah pulang bareng mereka. Nyokap tetap cuek aja bawa kakak gua itu. Akhirnya kalau mereka datang, gua kabur dari sekolah dan memilih pulang sekolah dengan jalan kaki.
Sampai di rumah, nyokap bakal marah sama gua dengan kata2 yang sama,
“ Angel, kamu ini ga tau berterima kasih, Mama sama kakak kamu sudah cape2 jemput kamu, kenapa malah kabur?”
“ Siapa bilang Angel kabur?”
“ Kakak kamu walau seperti ini, tapi dia itu gak akan lupa muka adiknya yang lari dari dia?”
Gua terdiam dan bisa bayangkan kalau kakak gua nunjuk2 tangannya saat gua berusaha lari dari mereka,
“ Siapa suruh bawa dia, Angel kan malu punya kakak bego kayak gitu.. angel sudah bilang jangan jemput kalau ada dia.. ” kata gua langsung lari ke kamar.
Gua, ga pernah mau mengerti? Apakah kalimat yang gua ucapin itu, bisa membuat kakak gua ngerti kalau gua ga suka sama dia. Tapi kalimat itu cukup bikin nyokap marah. Ga peduli ya.. yang penting. Gua gak mau diledekin teman-teman karena punya kakak idiot seperti dia.
***
Sebenarnya kakak gua, gak terlalu jahat dan bikin repot gua dalam kesehari-hariannya. Dia bisa makan sendiri, bisa mandi sendiri dan bisa main sendiri tanpa perlu ditemenin siapa-siapa. Kalau tiba-tiba dia muncul saat gua lagi asyik nonton tv, gua selalu suruh dia pergi, dengan wajah dia yang bego dan mukanya yang culun. Dia malah maksa ikut nonton sama gua. Karena kesel gua teriak.
“ Eh idiot pergi deh, gua males banget loe nonton sama gua.. sana pergi..”
“ Angel.. adik.. kenapa benci sama kakak..” kata dia sepatah-patah,
Gua terdiam.
Sebenarnya ga ada jawaban kenapa gua harus benci dia. Gua Cuma merasa, hidup gua ini ga seperti teman-teman gua yang lain. Punya kakak yang normal, bisa jadi pelindung gua. Jadi teman ngobrol gua. Tapi kakak gua.. rasanya mustahil.
Akhirnya gua mengalah dan pergi dari ruang tamu, membiarkan dia nonton tv sendiri.
Dulu, gua gak terlalu peduli dan gak pernah sebenci itu sama kakak gua, waktu kecil, gua sering main boneka sama dia, main lari-larian. Atau berbagi tv yang sama. Gua merasa semua baik-baik saja sama dia, sampai akhirnya ketika gua mulai remaja dan pindah ke sekolah menengah pertama (SMP), semua berubah. Awalnya teman-teman gak ada yang tau kalau kakak gua itu idiot, sampai akhirnya seiring waktu banyak yang melihat sendiri kakak gua ketika nyokap jemput gua sama dia, gua mulai merasa malu. Teman teman gua yang mulai tau, kalau gua punya kakak idiot, mulai suka ngomongin gua di belakang. Kalau ada soal pelajaran yang di depan kelas ketika gua harus maju untuk jawab saat disuruh pak guru, dan gua gagal. Ada suara teriakan yang bikin hati gua sakit.
“ pantes aja ga bisa, secara.. kakaknya aja idiot, apalagi adiknya..”
Mendengar itu, gua jadi kesel sendiri. Dan pulang ke rumah, kalau dulu kakak gua langsung ajak gua main boneka, kali ini boneka yang dia kasih ke gua, langsung gua lempar,
“ jangan main sama gua lagi,..”
“ Ke.. napa ?” Tanya kakak gua.
“ Gua malu punya kakak idiot kayak loe..”
Dia terdiam. Mungkin berpikir apa yang gua lakuin ke dia.tapi gua ga peduli. Jadi mulai saat itu setiap dia ajak gua main, gua akan marah dan gak mau.  Nyokap selalu suruh gua main sama dia dan gua malah nangis.
“ Mama, kenapa sih Angel punya kakak cacat kayak gitu, Angel kan malu di sekolah teman-teman pada ledekin angel.. idiot, bego-lah ini itu, angel malu ma..”
Mama malah nampar gua dan kakak gua ngeliat itu. Dia langsung tarik tangan mama gua.
“ dasar anak gak tau diri, berani-beraninya kamu ngomong gitu ke mama dan kakak kamu..”
“ salah apa Angel, salah kalau ngomong jujur kalau angel malu.. malu punya kakak kayak gitu.. cacat, bego, idiot…” kata gua sambil lari ke kamar.
nyokap hanya bisa peluk kakak gua, kakak gua yang mungkin cacat, dia pasti mengerti rauk wajah gua yang emosi dan marah. Nyokap hanya bisa nangis dan kakak gua belai rambut dia dengan perlahan seperti membelai kucing yang sering dia temukan di jalan.
***
Bokap gua, kerja di di pertambangan jadi gak pernah pulang kalau setahun sekali. Kalau pulang pun, dia lebih banyak habisin waktu sama kakak gua yang cacat, padahal gua juga anaknya, tapi kasih sayang ke gua Cuma sebatas ngasih duit dan cium di kening, beda sama kakak gua yang dianggap anak emas. Gua ga perlu iri dengan yang ini, yang penting gua dapat uang saku sebab gua tau, nyokap ga akan kasih duit ke gua kalau ga ada ember-ember mau temenin kakak yang idiot untuk main bersama.
Yang namanya remaja, pasti mulai merasakan jatuh cinta. Jadi, di sekolah seberang, ada anak ganteng yang gua suka banget namanya Aji. Gua sering ngeliat dia main basket bareng anak-anak cowok di sekolah gua di taman. Suatu ketika, gua sampai rela-rela jadi pembokat klub basket sekolah yang khusus bawain minum buat pemain basket Cuma untuk kenal sama dia. Gua gak jelek dan juga cantik, tapi gua yakin kalau cinta yang tulus pasti kelak akan terbalas.
Tanpa gua sadari, Aji sering liat gua jalan kaki pulang ke rumah, dia kan naik motor. Merasa kasihan atau emang suka sama gua, akhirnya dia nawarin tumpangan. Astaga, hati gua benar-benar berbunga-bunga banget ketika tawaran itu datang ke gua. Tapi gua tau, akan jadi masalah kalau sampai dia tau rumah gua dan ngeliat kakak gua yang cacat, dengan terpaksa gua suruh dia anterin gua jauh 100 meter dari rumah gua, sebab gua tau, kakak gua selalu sambut gua di depan rumah setiap gua mau pulang. Apa jadinya kalau dia tau gua punya kakak cacat, pasti dia ilfeel sama gua.
Tanpa terasa , gua semakin dekat sama dia. Impian gua untuk punya pacar seperti dia nyaris tercapai ketika dia undang gua ke ulang tahun dia sebagai tamu istemewa. Gua tentu harus kasih dia hadiah yang istemewa. Oleh karena itu, gua harus sogok nyokap gua dengan berpura-pura baik dan mau main sama kakak gua yang idiot itu sampai duit gua ke kumpul untuk kasih hadiah ke Aji. Diam-diam, gua pernah nanya ke dia, mau hadiah apa kalau nanti ultah.
“ apa aja dari kamu aku terima kok, walau hanya bunga di jalan..” ujar Aji yang bikin jantung gua nyaris copot karena romantis
Dari teman-teman dia, gua tau. Aji paling suka yang namanya helm sport. Tapi harganya mahal banget, dan gua tau, apapun yang gua lakukan sekaligus jadi baby sister kakak gua yang cacat, gak akan dapat beli itu helm. Terpaksa gua mikir hadiah lain untuk dia. Sambil nemenin kakak gua main, gua jadi baying-bayangin apa yang harus gua beli. Kakak gua yang merasa gua suka bengong lalu nanya.
“ Kok , main monopolinya lama , adik bengong ya..?” kata kakak gua yang walau idiot jago sekali itu duit.
“ mau tau aja, “ kata gua sambil melangkahkan langkah monopolinya.
Tiba-tiba gua jadi kepikiran, mungkin gak ya, kakak gua yang idiot ini punya duit untuk sumbang bantu gua beli helm.
“ Eh, kak, punya duit gak?” kata gua dan dia langsung nyodorin duit monopoli yang bikin gua BT.
“ Duit beneran tolol, bukan duit kayak gini, duit kayak gini gua juga banyak..”
“ buat.. apa?” Tanya dia kalau ngomong suka kepatah-patah khas orang tolol.
“ ada kagak..?” Tanya gua kesel.
Tiba-tiba dia hilang ke kamarnya dan balik lagi dengan toples yang berisi uang benaran.
“ ini.. untuk adik..”
“ sumpeh loe.. duit ini hasil tabungan loe selama ini, banyak bener..”
“ untuk adik.. kakak kasih..”
“ yakin..”
“ ia.. tapi temanin kakak beli permen di supermarket..”
“ Cuma itu doang syaratnya.. gampang banget. Capcus yukkk” kata gua sambil gandeng dia ke supermarket terdekat.
Akhirnya berkat kakak gua, gua bisa beli hadiah terindah untuk Aji. Rasanya bahagia sekali, tapi gua tau, aji ini pasti bakal undang banyak orang dalam ulang tahunnya. Jadi gua harus jadi special di hari itu, gua harus dandan yang cantik dan benar-benar terlihat hebat di pesta ulang tahun dia.
Sampailah tiba pada waktunya.
“ mau kemana Angel?:” Tanya nyokap gua sambil nonton tv sama kakak gua.
“ mau ke ulang tahun teman. “
“ kamu ada ambil duit kakak kamu ya?” Tanya nyokap.
“ kagak tuh, dia yang ngasih sendiri, Tanya aja sendiri sama dia..”
“ ooo. Pantesan duit tabungan dia habis,. Kamu tau gak, dia nabung duit itu buat beli kado ulang tahun kamu minggu depan.. “ kata nyokap yang langsung bikin gua sadar kalau minggu depan gua ulang tahun.
“ oo. Gitu, makasih deh, sama aja kan duitnya juga ke angel sekarang.”
“ mau ke ulang tahun dimana Angel..”
“ disamping sekolah itu, kafe hijau. Si kakak juga tau, kan sering minta beli es hijau disana..”
“ yauda, hati-hati..”
Dengan perasaan bebas merdeka tanpa larangan nyokap, akhirnya gua melangkah kaki seribu menuju ulang tahun Aji. Sampai disana, gua benar-benar ga salah tebak, banyak cewek2 yang diundang ke ulang tahun dia, termasuk Agnes, musuh bubuyutan gua di sekolah yang suka reseh.  Saat gua masuk ke dalam dia langsung negur gua.
“ eh adiknya si idiot, datang juga kesini.. ngapain? Gak bawa kakak loe kesini? “ kata dia dan gua diem aja.
Gua melihat Agnes uda bawa kado dan tiba-tiba teringat kalau kado gua ketinggalan di rumah.
“ kado dari gua istemewa loh, kado dari loe mana ngel? Jangan bilang loe datang Cuma mau numpang makan gratis.’
“ gak usah reseh deh u. gua punya kado, kado yang gak perlu gua kasih liat ke loe..”
“ oh ya.. Alhamdulillah ya..( berujar mirip arti syarini) masih tau diri juga..”
Agnes pergi ninggalin gua, dan gua merasa bodoh sekali ketinggalan kado untuk Aji, kalau balik lagi ke rumah pasti acara penting pemberian kue ulang tahun pertama dari Aji bakal kelewat. Gua gak akan rela kalau si Agnes yang dapat kue pertama. Gua pun berpikir memeras otak untuk membuat suasana jadi gak rusak.
Dirumah.
Kakak gua yang bodoh itu, tiba-tiba ngeliat hadiah kotak yang gak sengaja terletak di lantai, jadi kado itu ketinggalan saat gua lagi iket tali sepatu, dan langsung ninggalin begitu aja. Dia tau dan pasti inget kalau gua akan ke pesta ulang tahun yang tadi gua sebutin, dengan nekad dia bawa kado itu sendirian tanpa sepengetahuan nyokap gua yang lagi cuci piring di dapur. Walau bersusah payah mengingat jalan, akhirnya dia tiba juga di depan tempat kafe hijau sambil bawa kado di tangannya.
Ketika pesta berlangsung dan Aji mulai mau sebutin kue pertama dia, gua dan Agnes saling berpikir untuk mendapatkannya. Tapi tiba-tiba Aji menyebut nama gua, gua senang banget dan maju dengan muka kemenangan di depan Agnes yang sewot mampus.
“ aji maaf ya, kadonya ketinggalan nanti aku kasih besok pas di lapangan basket ya..”
“ iya gapapa, ini kue pertama special untuk kamu.”
Dan saat moment penting itu, kakak gua yang idiot muncul. Sambil berteriak.
“ adik.. adik.. adik… ini kadonya.. kadonya..”
Semua orang melihat ke kakak gua. Dan aji pun gitu. Muka gua langsung terkejut. Agnes mengunakan kesempatan itu sambil berkata.
“ wah, kakaknya si Angel datang tuh, si idiot.. akhirnya adik dan kakak idiot berkumpul hahahaha ”
Kakak gua yang marah kerena merasa Agnes meledek gua, langsung menyerang Agnes hingga mukanya jatuh ke depan kue ulang tahun dan terceplak di mukanya. Gua yang malu melihat kejadian itu langsung panic. Aji bertanya.
“ itu kakak loe..” gua bengong sambil tak bisa menjawab apa-apa
“ bukan.. dia bukan kakak gua..” kata gua lari keluar dari pesta dan merasa malu sekali, karena panic tanpa sadar sepeda motor melaju cepat dan menabrak gua sampai akhirnya gua terpentar tanpa bisa melihat apapun selain orang terakhir di atas bayangan mata gua adalah kakak gua yang berteriak-teriak
Adik.. adik..
***
Dua minggu kemudian, gua terbangun, terbangun dengan kondisi tanpa bisa mengerakan kaki dan tangan gua, tulang leher gua patah karena tabrakan itu. Nyokap sama bokap ada disamping gua. Tapi ada yang kurang lengkap dari kedua orang itu, yaitu kakak gua.
“ ma, aku dimana?” kata gua sambil merasakan mata yang sakit.
“ dirumah sakit.. kamu uda gak bangun sejak 5 hari lalu, kamu koma selama itu.”
Gua melihat sekeliling dan memang gua ada di rumah sakit dan beberapa alat kedokteran,. Tapi bukan itu yang gua mau lihat. Gua mau lihat kakak gua, gua merasa dalam tidur gua, selalu terbayang dia. Bayangan dimana mimpi saat masa kecil yang bahagia bermain sama dia, dia gendong gua, dia kasih makanan yang gua suka dan terakhir dia bilang dia sayang gua dengan terpatah-patah.
“ kakak mana?”
Nyokap menangis, dan bokap terdiam dengan berat hati berkata.
“ dia lagi dirawat di ruang sebelah ..”
“ loh dia sakit apa? Kok juga masuk rumah sakit?”
Gua bangkit dan bonyok membantu gua berjalan ke ruangan sebelah dan melihat kakak gua yang sedang tertidur sambil meluk boneka yang dulu sering dia kasih ke gua.. gua melihat kakak gua dengan keprihatinan dan matanya kedua tertutup dengan perban,
“ kakakmu memberikan kedua matanya untuk kamu, ketika kecelakaan kamu terjatuh dan kedua matamu rusak karena cairan laksa yang dibawa motor itu terkena mata kamu.”
“ astaga. Jadi kakak ga bisa ngelihat lagi dong..”
Gua menangis saat mendengar kalimat itu.
“ bukan Cuma itu, ada pendarahan yang terjadi setelah operasi dan kakak kamu jadi kritis gini.”
Gua meraih tangan kakak gua, sambil berkata.
“ kakak, bangun, maafin Angel.. kakak, bangun. Angel janji setelah kakak sembuh, angel akan sayang sama kakak lagi.. angel mohon..”
Tangan kakak gua bergerak dan berkata dengan seperti biasanya.
“ adik.. adik.. kakak sayang kamu.. selamat ulang tahun” kata kakak gua untuk ucapaan terakhir dia
Dan kalimat itulah terakhir yang gua dengar dari dia. Dia telah pergi untuk selamanya, selamanya untuk membuat gua tetap hidup dengan kado kedua matanya untuk gua. dokter sempat menolak untuk memberikan matanya ke gua, tapi kakak gua ngotot. dia merasa tidak boleh ada orang lain yang cacat yang sama di keluarga ini selain dia, mama juga nolak, tapi kakak gua marah dan gak mau makan sampai dia bisa kasih kedua matanya untuk gua. akhirnya mama luluh, dia ikhlas, dan opearasi ke gua berhasil tapi kakak gua alami pendarahan dan akhirnya kritis dan pergi untuk selamanya.  Selamanya untuk membuat gua merasa tak perlu merasa malu memiliki kakak seperti dia. Dia bukan hanya seorang kakak yang bertahan atas penderitaan yang dia miliki sebagai anak yang lahir dengan kerterbatasannya, tapia dia adalah seorang kakak berhati malaikat yang tanpa pernah berhenti mencintai gua sebagai adiknya.
Tanpa pernah merasa sakit hati oleh kalimat kalimat yang terkadang lebih menusuk daripada gua memukulnya dengan keras.
Kakak, karena dirimu lah kini aku sadar,
Aku tidak terlahir untuk sempurna tanpamu, walau dunia ini mungkin tidak pernah adil untuk kehidupanmu saat ini, apapun yang kamu lakukan atas dasar yang kau pikirkan, kaulah tetap kakakku yang terbaik, terbaik yang ingin pernah kusampaikan kepada dunia.
Bahwa hanya ada satu kesempatan untukku bersamamu dalam hidup ini yaitu saat saat kau hidup bersamaku.
selamat jalan kakak tercintaku
kisah ini bisa kamu dapatkan dalam novel berjudul sama yang telah terbit dan 
info lengkap follow MY IDIOT BROTHER